Otanjoubi Omedetou || ff–may I?

Title: Otanjoubi Omedetou

Genre: Family (maybe)

Rating: T

Characters: Yamada Ryosuke, Inoo Aya (OC), Chinen Yuri, Inoo Kei, Nakajima Yuto (sekilas)

Disclaimer: I only owned the plot and Aya

Note: Semuanya fiksi, kecuali Yamada, Chinen dan Yuto—mereka memang ada. Nama ortu chara juga kagak bener, saya gak tau yang bener soalnya. Terus, JNS dan nama-nama terorisnya juga gak ada. Itu semuanya saya karang LOL.

 

 

Sakuradai, Tokyo

28 Oktober

08.10 a.m

Pagi berangin yang kencang, membuat siapapun malas pergi ke luar rumah.  Sekolah pun diliburkan beberapa hari karena dikhawatirkan terjadi badai.   Pada saat seperti ini,  Yamada lebih suka berdiam diri di kamar, memandangi rintik-rintik hujan yang mulai turun sambil minum coklat panas. Yamada sengaja membuka jendela kamarnya, menyebabkan kertas-kertas dan benda-benda ringan lainnya berterbangan ke mana-mana.  Tapi dia tidak peduli. Yamada menghembuskan napasnya panjang.  Dia teringat  kembali dengan percakapannya dengan Aya kemarin.

”Jadi…kau tinggal dimana sekarang?” ucap Yamada ringan.

”Etto…sebenarnya…Aya tidak tinggal jauh dari sini. Di daerah Ekoda,” jeda sebentar, ”Mungkin sekitar dua puluh menit dari rumah kita yang dulu,” paparnya.

”Baru pindah?”

”Hn.” Satu anggukan singkat.

Yamada meraih kertas kecil dan pena dari ranselnya. Dua benda itu ia suguhkan pada sang gadis, ”Bisa tuliskan alamat lengkapnya?”

”…”

Kemarin, Yamada bertemu dengan Aya di El Magenta Cafe—sebuah kafe gaya barat yang cukup sering ia kunjungi. Alasannya simpel, selain harganya tidak terlalu menjulang, kafe itu letaknya tidak menonjol, sehingga sering sarat pengunjung. Entahlah, mungkin si pemilik mempunyai alasan tersendiri mengapa mendirikan kafe bukan di tempat orang yang biasa lalu lalang. Punya bisnis ilegal yang menggunakan penyajian biasa sebagai kedok mungkin. Yamada tak peduli. Yang jelas, tempat itu telah mempertemukan ia dan sang adik melalui insiden-coke-tumpah-tidak-sengaja setelah terpisah selama lebih dari dua tahun. Itu saja sudah lebih dari cukup baginya.

Sakuradai, Tokyo

29 Oktober

07.20 a.m.

Yamada bangun lebih cepat hari ini. Kalau biasanya ia harus membiarkan jam weker berdering lima kali sebelum ia benar-benarr bangun, kali ini ia sudah siaga pada deringan kedua. Hari ini spesial omong-omong. Ia sudah mandi dan mengganjal perut sekenanya dengan mie cup. Tubuhnya juga sudah dibalut kemeja putih yang digulung selengan serta jeans biru. Tinggal menambahkan sneakers serta mantel dan melilitkan syal ke leher, Yamada siap berangkat. Dan oh ya, jangan lupa kotak sewarna langit dengan pita perak di sana. Itu poin utamanya.

“Yama-chan, kau mau pergi ya?” Suara familiar menyapanya. Berasal dari pemuda seumuran Yamada dengan titel Chinen Yuri—Chi kalau mau lebih akrab.

“Ha?” jeda, “Iya. Kenapa?” ujar Yamada seraya menyusupkan keitai ke dalam saku.

“Ah tidak. Cuma tanya kok.”

“Oh,” Yamada mengangguk selintas, “Baiklah. Ja!” ia melenggang keluar setelah menggeser rolling door-nya sampai batas akhir. Meninggalkan flat murah yang ia sewa dengan harga lima ribu yen perbulannya. Terbilang cukup murah—meski perabot utamanya hanyalah dua tempat tidur, dua meja kecil, dan satu lemari pakaian di pojok kamar, dengan kamar mandi tentunya—mengingat biaya di flat lain bisa berkali lipat dari itu. Lagipula, Yamada hanya perlu mengeluarkan dua ribu lima ratus yen karena Chi akan menanggung setengahnya lagi.

”Satoshi….Kau benar-benar seorang karyawan?”

Helaan napas terdengar, “Tidak percaya ya? Aku kan sudah berulang kali berkata bahwa aku seorang karyawan di Japan’s Agency.”

“Benarkah?”

“Iya, sayang. Kau bisa tanya Pak Fukuda kalau tidak percaya. Kita kan sudah bertetangga dengan mereka sejak lama.”

Ayumi menghela napas. Kalau ia bertanya mengenai kebenaran pekerjaan suaminya, ia selalu menggunakan Fukada sebagai alasan. Tanya saja, tanya saja. Rasanya sudah beratus kali terngiang di telinganya. Oke, bukannya Ayumi tidak percaya pasangan hidupnya sendiri, tapi ia bisa melihat kalau Pak Fukada bekerja dengan jadwal yang teratur. Mereka masih bisa menghabiskan natal bersama. Tidak seperti Ayumi yang harus berulang kali menjelaskan pada Ryo dan Aya bahwa papa mereka sedang dalam dinas teramat penting ke Swiss natal lalu. Dan begitu juga dengan natal-natal sebelumnya. Yamada Satoshi tidak pernah di rumah. Heran ia. Pekerjaan apa yang bahkan tidak bisa ditunda saat seluruh kepala keluarga merangkul anak-anak mereka dengan tawa di hari sespesial natal.

Pemuda berumur tujuh belas tahun itu terbatuk pelan. Sebuah kantung krem menggelayut di tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya baru saja membesut hidung. Wajar kalau ia sudah terbatuk sekian kali. Ini musim gugur. Angin dingin seringkali berhembus dan badai bisa saja terjadi kalau cuaca sedang benar-benar tidak bersahabat. Semua orang yang tinggal di negara dengan empat musim tahun akan hal itu. Pada umumnya, mereka akan menghangatkan diri dengan menaikkan suhu penghangat, bergelung di bawah selimut, atau memanjakan diri di balik nyamannya kotatsu. Tapi tidak dengan dirinya. Ia punya hal lebih penting daripada bermalas-malasan saja.

Yamada melirik arlojinya. Aya mengatakan bahwa untuk menjamah rumahnya, ia perlu menghabiskan waktu dua puluh menit dari rumah mereka yang dulu—Shinsakuradai. Kalau waktu tempuh Sakuradai dengan Shinsakuradai kurang lebih lima belas menit, artinya Yamada bisa tiba di Ekoda dalam waktu tiga puluh lima menit. Prediksinya mendekatilah. Ia beranjak dari Sakuradai pada pukul setengah delapan dan ia akan menjumpai sang adik sekitar jam delapan lebih beberapa menit. Beruntung kalau ia bisa menemukan bus tidak terlalu penuh lebih cepat. Bisa menghemat waktu.

Langkahnya ia putar ke kanan, menuju halte bus, dan memposisikan tubuhnya di atas bangku panjang. Lalu—menunggu.

”Mama, kerjaan papa apa sih?”

“Hmm?” Yamada Ayumi mengambil remote yang tergeletak di atas meja, mengkliknya beberapa kali dan berhenti saat menemukan saluran televisi yang tepat.

“Iya, papa kerja apa? Kok jarang sekali di rumah?”

Atensi wanita paruh baya itu teralih. Dari TV Show ke anak lelakinya yang kini sedang menatapnya—menyiratkan harap sebuah penjelasan dari pertanyaannya barusan. “Ryo-chan, papa itu sibuk. Kerjaan kantornya menumpuk. Jadi ia sering lembur dan selalu pulang malam,” jelasnya sambil tersenyum.

Ryo mengangguk. Ia mencomot kue macaron yang kemarin dibawakan papanya dari Perancis. Ini kue khas sana katanya. “Tapi kan Ryo kangen Papa, Ma. Papa selalu pulang saat Ryo tidur dan berangkat sebelum Ryo terbangun.”

Lagi-lagi sang mama tersenyum. Rambut gelap putranya ia belai dengan lembut seraya berucap, “Sudah sudah. Tidak usah Ryo pikirkan ya. Kan masih ada Mama disini.”

“Hn.”

“Nah, Ryo tidur ya. Anak umur lima tahun tidak boleh tidur malam-malam. Aya saja sudah tidur dari tadi,” Ayumi berdiri. Meraih tangan anaknya kemudian membawanya ke kamar. Ryo diam saja. Ia anak baik dan tidak akan melawan mamanya. Termasuk saat ia menyaksikan mamanya yang menghela napas panjang kala selimut biru muda menyelubungi tubuhnya. Ia tahu. Ada satu hal yang tidak ingin mama bagi dengannya. Sesuatu yang mungkin akan membuat perasaannya menjadi tidak enak kalau ia tahu.

Cukup lama terdiam di halte bus, ternyata membuat pikiran Yamada bervakansi ke tahun-tahun silam. Sewaktu dirinya masih kecil, ia sering sekali bertanya pada mama mengenai pekerjaan papa. Ia bukannya mau mencampuri, hanya penasaran saja. Mama selalu bilang kalau papanya seorang karyawan yang sibuk. Sering dinas keluar negeri sehingga membuat keluarga mereka jarang utuh. Meski papa membuat dirinya mempunyai banyak miniatur simbol negara-negara ternama—seperti Big Bang dan Eiffel—atau melimpahkan boneka Minnie Mouse asli dari Disneyland untuk Aya, sebenarnya Yamada lebih suka kalau papanya pulang lebih cepat, memeluknya hangat dan mengucapkan ‘oyasuminasai’ sebelum ia terlelap dengan sendirinya. Yamada tahu kalau ia laki-laki (biasanya anak perempuan yang merindukan perlakuan seperti tadi), tapi bagaimanapun juga saat itu ia masih terbilang kecil. Menurutnya normal-normal saja kalau anak lelaki lima tahun menginginkan kasih sayang dari papanya.

Yamada menghentikan lamunannya saat mobil yang didominasi warna kuning berhenti. Dengan sigap, ia menjejalkan diri ke dalam Bus Musumade. Cukup terkejut juga ia bisa menemukan salah satu tempat duduk yang kosong. Tiga hari sebelum cuaca mengalami penurunan drastis seperti sekarang, biasanya Yamada bisa menyaksikan teman-teman SMA Musashi-nya berdesakan di dalam sini, bergeser ke dalam saat ada komando dan menyeruak keluar saat tiba di tujuan. Yamada melirik jendela, menyaksikan sebuah bangunan tingkat lima yang letaknya persis di sebelah sekolahnya. Lagi-lagi mozaik ingatan terangkat menuju permukaan.

“Sudah, sana pulang! Mama papamu pasti cemas,”  kata Yamada. 

“Mama papaku mengantar Kei nii-san ke lomba percobaan IPA.  Jadi aku pulang sendiri,”  suara Aya mengecil.  Rupanya dia masih takut pada Yamada yang tadi tiba-tiba meledak.

“Kalau begitu kenapa tidak pulang saja?  Aku masih harus menunggu supir,”  kata Yamada. 

Dia mendorong tubuh kecil Aya ke luar kelas. Aya sendiri tidak bisa menolak diperlakukan seperti itu oleh Yamada. Meskipun sedikit ragu, akhirnya Aya pergi sendiri meninggalkan Yamada. Yamada mengawasi sampai Aya menghilang, lalu duduk kembali di bangkunya. Yamada cemberut, ia langsung menendang mejanya.  Tetesan air mata membasahi pipinya. Yamada menangis keras. Walaupun Aya mungkin tidak tahu, tapi ini adalah perpisahan mutlak bagi mereka berdua yang tak bisa terelakkan.

Yamada masih ingat secara persis kondisinya waktu itu. Ia masih lima belas tahun, sedangkan Aya dua tahun lebih belia darinya. Keduanya bersekolah di SMP Musashi. Yamada kelas tiga, Aya baru tahun pertama. Saat itu Yamada pulang lebih akhir karena sebagai pengurus kelas, ia bertanggung jawab atas pembagian peserta kelasnya yang akan mengikuti lomba marathon antar kelas. Ia terpaksa bekerja sendiri karena Yuto—wakil pengurus kelas—ada urusan mendadak yang tidak bisa ditunda. Tiba-tiba, saat sedang menyusun jadwal, pintu diketuk dan suara yang sangat ia kenal menggaung. Membuat Yamada menghentikan pekerjaannya dan sang entitas berhasil menyita perhatiannya secara menyeluruh.

Entitas itu—Aya. Adiknya yang sudah dengan susah payah ia hindari selama sepekan terakhir. Baik dengan selalu pulang cepat saat lonceng berbunyi, berdiam di dalam kelas saat festival olahraga, dan meminta supirnya menempuh jalan memutar saat berangkat serta pulang dengan tujuan final yang sama—tidak bersitatap secara langsung. Jangan kira ia melakukan ini dengan sukacita. Ia terpaksa. Ia harus mau meski hatinya berteriak ’tidak mau’ dengan sangat lantang. Karena Yamada tidak akan memaafkan dirinya sendiri kalau otousan merealisasikan ancamannya.

”Nii-chan, kenapa kau menghindariku?”

”Karena aku menyayangimu,” tanpa sadar Yamada bergumam pelan di dalam bus. Seharusnya kalimat itulah yang ia berikan untuk sang adik, bukan meninggikan suara satu oktaf beserta kalimat, ”Karena aku membencimu” seperti dua tahun lalu.

”Daerah Ekoda.”

Yamada tersentak. Ia berdiri, membayar sebesar tiga puluh yen, dan melangkah keluar dari bus.

Ekoda, Tokyo

29 Oktober

08.13 a.m

Disusurinya jalanan panjang seputaran Ekoda. Pandangan Yamada terus berpindah dari serentet rumah dan kertas kecil yang berada dalam genggamannya. Rumah, kertas, rumah lagi, kertas lagi, rumah lagi, kertas lagi, lalu—berhenti. Di seberang jalan tempat ia berdiri sekarang, sebuah rumah dengan plang ukuran besar bertuliskan ’Inoo’ terpancang mantap. Rumah itu terbilang mewah—dengan area yang cukup luas, dua lantai, dan pekarangan yang bisa menampung sekitar lima mobil. Yamada tersenyum simpul. Ia bahagia karena sang adik bisa mendapatkan kehidupannya yang baru. Tetap sangat layak setelah bebas dari kungkungan Yamada senior.

Yamada mencitra langkah. Menyeberangi jalan sementara indera penglihatannya ia gulirkan ke arah kantung krem. Hanya untuk memastikan bahwa isinya masih u—

TIIIIIIIIIIINNNN!

—tuh.

BRUK

Ia terjerembab. Hantaman benda keras barusan membuat Yamada kehilangan alih atas tubuhnya. Buku-buku jarinya, tulang rusuknya, sepasang kaki, serta tangannya rasanya bukan miliknya lagi. Ia mengerang kesakitan, merasakan cairan hangat yang mengalir di beberapa sisi anggota geraknya. Berusaha bangkit, tapi ia tak bisa. Hal terakhir yang ia saksikan hanyalah deru mobil yang melaju kencang alih-alih pertolongan. Karena sekon berikutnya, penglihatan Yamada memudar, menjadi buram dan—hitam.

Gelap, senyap, lenyap.

Ryo menoleh ke kanan dan ke kiri dengan gusar. Napasnya memburu, langkahnya tak tentu. Rasanya sudah berjam-jam ia mengitari tempat ini. Berlari, berlari, dan berlari lagi. Namun nyatanya ia kembali ke tempatnya semula. Meski ia sendiri tidak yakin mengenai ordinatnya sekarang. Sebuah padang rumput luas yang tak bertepi sejauh ia memandang. Ia berteriak, kencang, teramat kencang hingga suaranya terasa serak. Tapi ia tak digubris. Ia sendirian. Tanpa teman, tanpa keluarga, dan (mungkin) tanpa jiwa.

“Ryo-chan, apakah itu kau, Nak?”

Ia menoleh. Terengah dan mematung selama beberapa detik saat menyaksikan entitas lelaki paruh baya dalam balutan putih. “Papa?”

“Iya, Ryo. Lama tidak berjumpa.”

“…dimana?”

Tidak ada jawaban. Ryo masih berusaha mengatur napasnya yang berantakan. Lewat sudut matanya ia mendapati papanya bergerak menjauh. Meninggalkannya dalam diam.

“Papa?”

Ia tersenyum. “Kemarilah, Ryo. Papa punya miniatur Tokyo Tower untukmu. Ayo,” tangannya terbentang—siap memeluk Ryo erat kalau ia menenggelamkan diri kesana.

Ryo diam. Masih diam. Ia berpikir dalam-dalam. Memilah benang-benang pikirannya dan menempatkan dalam kategori logis dan tidak logis. Papanya sudah meninggal dua tahun silam. Menembakkan pistol tepat di kepalanya. Ryo tidak tahu alasannya. Aya tidak tahu. Bahkan Mama juga bungkam. Mungkin Papa bisa menyogoknya dengan berbagai miniatur bangunan terkenal sebagai pengganti kasih sayang yang jarang ia berikan. Dulu, sewaktu ia belum bisa mengeja semua kanji dengan benar. Tapi tidak sekarang. Hal-hal seperti itu tidak lagi berlaku untuk pemuda yang sudah bisa menghidupi diri secara mandiri.

Maka Ryo mendekat. Menambah langkah dan berkata bijak, “Maaf, Papa. Aku sudah dewasa. Aku tidak lagi menginginkan mainan seperti itu.”

Dan semuanya terasa absurd.

“Hng.”

Suara lirih terdengar dari pemuda yang terbaring lemah di atas tempat tidur. Dengan bercak darah di balik balutan perban di kepalanya, pemuda itu berusaha bergerak. Namun, kembali terhenti saat rasa nyeri menyerangnya. Pemuda itu kembali diam. Yamada diam. Ia menggulirkan pandangannya ke sekitar. Sebuah ruangan sepi yang ia kenali sebagai rumah sakit. Dengan tirai sewarna zamrud, beberapa meja kecil, serta bau obat yang kian menusuk. Dari balik jendela, diamatinya sang surya yang hendak menenggelamkan diri, menyisakan semburat sinar orange yang menerpa wajahnya.

Ah ya, ia tertabrak mobil tadi. Tepat saat beberapa langkah sebelum ia mencapai destinasi utama. Entahlah. Mungkin itu hukuman dari Kami-sama atas ketidakpatuhannya terhadap papa setelah ia membongkar sebuah kamuflase yang nyaris sempurna. Papanya penipu ulung ternyata. Awalnya bergabung dengan Japan’s Agency sebagai karyawan, namun kemudian mendermakan diri ke Japan National Security—organisasi tersembunyi di balik Japan’s Agency yang tugas pokoknya melenyapkan golongan hitam terkemuka. Sejak itu, Yamada selalu menanggapi perkataan papanya dengan ogah-ogahan. Untuk apa mengindahkan nasihat seorang pembunuh, eh? Walaupun terkadang Yamada merasa bahwa batas antara baik dan buruk tidaklah jelas. Papanya menghabisi teroris sekelas Ko Bruchet, Yoslav Oswald, dan Grill Flaurent. Orang ternama bertampang malaikat berhati iblis yang menyusupkan uang jutaan poundsterling ke kantung masing-masing. Kalau dianalisa, sebenarnya itu cukup bagus. Mereduksi oknum-oknum pemakan uang negara untuk kepentingan pribadi. Tapi, sebesar apapun kesalahan seseorang, rasanya hanya Kami-samalah yang berhak atas itu. Jadi karena itulah, Yamada sering bimbang hendak bersikap apa terhadap sang papa—dan pada akhirnya ia malah memilih opsi untuk berlagak cuek.

Tik tok tik tok. Detak jam dinding membuat Yamada memuntir kepalanya. Jam setengah enam sore. Pertanda bahwa ia sudah cukup lama tak sadarkan diri di sini. Lalu…siapa yang membawanya kesini kalau begitu?

GREK—pintu dibuka.

Yamada mencoba mencari tahu siapa yang datang. Seorang gadis berambut cokelat panjang dan laki-laki berambut gelap. Yang laki-laki langsung dikenalinya sebagai Chinen. Sedangkan dibutuhkan waktu beberapa menit bagi Yamada untuk mengenali yang perempuan.

“Nii-chan? Kau sudah sadar? Kau sudah sadar?”

Adalah kalimat pertama yang dilontarkan sang gadis saat mata mereka saling bertumbuk. Yamada bisa menangkap gurat cemas dari balik tatapan iris cokelatnya yang sendu. Gadis ber-sweater abu-abu itu meraih tangan Yamada, menggenggamnya dengan hati-hati seolah jemarinya benar-benar rapuh. Kemudian, Yamada mendengar sebuah isak tangis kecil. Pelan, kencang, lebih kencang. Sedu-sedan.

“A…ya,” panggilnya.

Gadis itu berhenti menangis, meski isaknya belum hilang. Yamada menggenggam jemari adiknya seerat yang ia mampu. Disunggingkannya sebuah senyum seindah yang ia bisa. Dikerlingnya Chinen yang mengambil posisi di sofa dekat pintu—nampak mengerti keadaan dengan sangat baik. Lalu, Yamada menatap adiknya lekat. Tidak banyak yang berubah dari Aya sebenarnya. Hanya saja, sorot mata yang biasa menggambarkan keceriaan itu telah redup. Disaput dengan kesedihan yang mungkin disebabkan oleh dirinya. Mau tak mau ia kembali merasa bersalah juga pada sang adik.

Adiknya, yang dulu sering merengek minta dibelikan es krim saat jalan-jalan. Adiknya, yang dulu sering berteriak kesal kalau Yamada tidak bersemangat saat bermain jungkat-jungkit dengannya di taman komplek. Adiknya, yang dulu selalu berlari ke kamar Yamada saat petir mengangkasa lalu ngotot mau tidur dengannya. Adiknya, yang dulu selalu berlindung di baliknya saat ada yang menjahili. Adiknya, yang dulu sering cemberut kalau Yamada menggodanya tentang orang yang disukai saat keduanya mulai beranjak dewasa. Adiknya, yang dulu pernah nyaris terbawa arus sungai kalau Yamada tidak segera menolong saat mereka kemah. Adiknya, yang perlahan menyadari kejanggalan sikap Yamada terhadap Papa. Adiknya, yang memperoleh perlakuan lebih dari Mama dan terkadang membuat Yamada merasa iri. Adiknya, yang harus rela ia tinggalkan saat Papa-Mama mereka bercerai dengan dalih percekcokan yang tak kunjung padam—walau Yamada meyakini bahwa Mama lelah bersuami seorang pembunuh adalah alasan yang sebenarnya. Adiknya, yang harus berganti marga menjadi Inoo saat Mama menikah lagi dan membuat Yamada harus bisa menerima bahwa Kei menggantikan sapaan nii-chan yang selama ini hanya ditujukan padanya. Adiknya, yang tidak memberi kabar bahwa ia pindah ke Vienna selepas Yamada membentaknya saat ia di tingkat 3 SMP. Dan adiknya, yang membuat Yamada bisa menerima semua kehilangan karena ia pernah mengatakan bahwa segala sesuatu yang hilang akan kembali kalau memang pantas untuk kembali.

“Otanjoubi…omedetou….”

OWARI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: